Evakuasi Buaya oleh Tim WRU TN Kutai

Evakuasi buaya di Desa Teluk Pandan
Jumat, 24 September 2021 pukul 08.08, Call center Tn kutai mendapat laporan tentang keberadaan buaya di Desa Teluk Pandan.
Menindak lanjuti laporan tersebut, Tim WRU Balai TN Kutai langsung menuju lokasi untuk melakukan evaluasi buaya yang ditangkap warga karena masuk kewilayah pemukiman (kolam ikann warga).
Buaya yang dievakuasi, kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih aman di Taman Nasional Kutai.
Masuknya satwa liar ke pemukiman warga, menjadi peringatan untuk kita semua agar tetap menjaga kelestarian habitat alami satwa liar yg ada disekitar kita.
Mari kita jaga kelestarian alam kita, agar tetap hidup selaras dengan alam.
Salam konservasi.

PELIBATAN PEREMPUAN DALAM KEGIATAN REHABILITASI DAERAH ALIRAN SUNGAI SEBAGAI KEWAJIBAN IPPKH DI TAMAN NASIONAL KUTAI

Berdasarkan Permenhut No. 18/Menhut-II/2011 dan SK IPPKH No.497/Menhut-II/2013 tanggal 15 Juli 2013, perusahaan pemegang IPPKH memiliki beberapa kewajiban, yaitu 1. Melaksanakan reboisasi pada lahan kompensasi dengan kewajiban menyediakan lahan kompensasi (Rehabilitasi DAS) 2. Melaksanakan reklamasi dan revegetasi tanpa menggu berakhirnya izin pinjam pakai (Reklamasi) 3. Pemeliharaan tata batas & perlindungan hutan 4. Pemberdayaan masyarakat 5. Kewajiban pembayaran (PNBP, PSDH, DR, Penggantian Nilai Tegakan) 6. Laporan semesteran kepada Menteri Kehutanan mengenai penggunaan kawasan hutan. Dalam pelaksanaannya, perusahaan mengalami kendala dalam penentuan lokasi penanaman karena memperhitungkan aksesibilitas, clear and clean serta memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Salah satu yang menjadi tujuan bagi penuntasan kewajiban penanaman dalam rangka rehab DAS adalah Taman Nasional Kutai. Terhitung kurang lebih ada 12 pemegang IPPKH yang melakukan penanaman di Taman Nasional Kutai diantaranya ; PT Indominco Mandiri, PT Kideco Jaya Agung, PT Santan Batubara, PT Kitadin Site Tandung Mayang, PT Tambang Damai, PT Tanito Harum, PT Mahakam Sumber Jaya, PT Trubaindo Coal Minning, PT Insani Bara Perkasa, PT Karya Usaha Pertiwi, PT Fajar Sakti Prima, dan Rumah Sakit Taman Husada Bontang. Perkembangan realisasi penanaman cukup berjalan dengan lancar, lokasi-lokasi yang letaknya jauh dari pemukiman dapat melakukan penanaman dengan baik dan lancar. Kendala utama, terkait dengan cuaca yang tidak menentu dan wabah penyakit yang kerap menyerang pekerja secara umum dapat diatasi dengan baik. Lebih dari 11.000 hektar penanaman yang telah dinyatakan berhasil dan diserahterimakan kepada pemangku. Perkembangan kebijakan dalam pemenuhan kewajiban penanaman dalam rangka rehab DAS ini mengharuskan pemegang IPPKH melakukan penanaman di areal kritis yang tegakan awalnya kurang dari 200 batang perhektar. Lokasi penanaman ini berada di daerah yang aktifitas masyarakatnya cukup tinggi. Hal ini menyebabkan perlu adanya pelibatan aktif masyarakat dalam kegiatan penanaman rehab DAS. Selama proses sosialisasi dan pelaksanaan kegiatan ternyata antusias kaum Perempuan untuk terlibat aktif dalam kegiatan penanaman sangat tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah para kaum ibu untuk turut serta melakukan proses penanaman dalam rangka membantu perekonomian keluarga  cukup besar. Keterlibatan mereka terutama pada proses-proses persiapan penanaman seperti pengadaan ajir, pengisian polybag, pembibitan, penandaan bibit sampai dengan membantu distribusi bibit ke lubang tanam. Bersama dengan para suami mereka yang melakukan penanaman, para ibu bahu membahu membantu agar tugas suaminya dalam melakukan penanaman dapat berjalan dengan lancar. Hampir seluruh perusahaan pemegang IPPKH melibatkan kaum Perempuan dalam melaksanakan kegiatan penanamannya khususnya perusahaan-perusahaan pemengang IPPKH yang memiliki kewajiban penanaman di sisi Timur Kawasan Taman Nasional Kutai. Untuk wilayah penanaman yang jauh ditengah hutan keterlibatan ibu-ibu cenderung kurang atau hanya terbatas pada lokasi pembibitan yang dekat dengan rumah mereka. Semoga kegiatan penanaman dalam rangka rehab DAS ini mampu melibatkan lebih banyak kaum Perempuan dalam pelaksanaan kegiatannya sehingga peran Perempuan tidak hanya dalam urusan mengurus rumah tangga namun juga mampu membantu suami mereka dalam meningkatkan perekonomian keluarga sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat.

Peringati HKAN 2021, TN Kutai Menanam 2200 Bibit Mangrove di BMP

Merayakan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2021, tanggal 10 Agustus 2021 bertempat di Bontang Mangrove Park, Balai TN Kutai bekerjasama denga PT. Pama Persada Nusantara dan PT. Pertamina Gas melaksanakan kegiatan Penanaman Pohon Mangrove. Pada peringatan kegiatan yang bertema: “Bhavana satya alam budaya nusantara, memupuk kecintaan pada alam dan budaya nusantara” melakukan penanaman 2200 bibit mangrove dengan rincian jenis: Sonneratia ovata, Sonneratia alba, Rhizophora Sp, Avicenia Sp. Kegiatan penanaman disponsori oleh PT. Pama Persada Nusantara Site Indo sebanyak 2000 bibit, dan dari PT. Pertagas 200 bibit. Hadir dalam acara penanaman Ketua OC Mitra TN Kutai, Perwakilan Dinas LH Kota Bontang, Perwakilan PT. Pama Persada Nusantara, PT. Pertamina Gas, Ketua Pokdarwis Bontang Baru Bersinar, Ketua RT 13 Bontang Kuala , Ketua RT 09 Bontang Baru dan Bumi Edukasi. Mengawali seremoni kegiatan penanaman pohon, sambutan Perwakilan dari PT. Pertamina Gas dan PT. Pama menyampaikan Komitmen untuk mendukung Balai TN Kutai dalam upaya konservasi TN Kutai kedepan. Kepala Balai TN Kutai, Persada Agussetia Sitepu, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para pihak khususnya perusahaan yg telah mendukung kegiatan penanaman pohon dalam rangka memperingati HKAN 2021. Kepala Balai juga mengapresiasi dukungan parapihak yang selalu mendukung dalam pengelolaan TN Kutai. Dukungan para pihak sangat dibutuhkan dalam mewujudkan amanah penunjukan Taman Nasional Kutai yaitu untuk melindungi habitat orangutan, bekantan dan beruang madu, serta jenis satwa lainnya. Kegiatan penanaman ditandai dengan penyerahan bibit dari PT. Pama dan PT. Pertamina Gas kepada Kepala Balai TN Kutai untuk selanjutnya melakukan Penanaman secara simbolis di jalur wisata Bontang Mangrove Park.

Rapat Tahunan OC/SC Mitra TN Kutai

Bontang, 28 Juni 2021 Bangga menjadi MITRA, demikian slogan anggota Mitra TN Kutai. Slogan ini yang selalu menjiwai perjalanan Mitra TN Kutai yang sudah menginjak umur ke 26  tahun menjadi partner Balai Taman Nasional Kutai dalam mengelola kawasan Taman Nasional Kutai. Mitra TN Kutai bermula  pada tanggal 30 April Tahun 1994 atas dasar MoU yang ditandatangani oleh Dirjen PHPA dan perwakilan dari 6 perusahaan yaitu PT. Pertamina, PT. Badak NGL, PT. Porodisa, PT. Kiani Lestari,  PT. Surya Hutani Jaya, dan PT. Kaltim Prima coal dan pada tanggal 29 Juni 1995 ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Dirjen PHPA No. 121/Kpts/DJ-VI/1995 dengan membentuk Panitia Pengarah (Steering Committee) dan Panitia Pelaksana (Operating Committee) Mitra TN Kutai, serta penambahan 2 anggota menjadi 8 Perusahaan yaitu PT. Indominco Mandiri dan PT. Pupuk Kaltim. Dalam perjalanan selama 26 tahun, terjadi dinamika keanggotaan dimana terdapat beberapa perusahaan yang keluar dan bergabung hingga saat ini jumlah anggota mitra TN Kutai menjadi 12 perusahaan yaitu PT. Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field, PT. Surya Hutani Jaya, PT. Kaltim Prima Coal, PT. Badak NGL., PT. Pupuk Kaltim, PT. Indominco Mandiri, PT. PAMAPERSADA NUSANTARA site INDO,  PT. PAMA PERSADA NUSANTARA Site KPCS, PT. Kaltim Methanol Industri, PT. Kaltim Parna Industri, PT. Kaltim Nitrate Indonesia dan PT. Pertamina Gas. Selama 26 tahun dalam mendukung Balai TN Kutai, Mitra TN Kutai secara konsisten mendukung kegiatan Balai, terutama menjadi komplementer terhadap program-program penting yang belum terakomodir dari pembiayaan APBN/Dipa. Berbagai program telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan TN Kutai dengan dukungan utama berupa pembangunan sarana prasarana wisata dan pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan kampanye.  Pada tahun 2020, Mitra TN Kutai mendukung persiapan dan pelaksanaan kegiatan Hari Konservasi Alam nasional (HKAN) yang diselenggarakan di Bontang Mangrove Park, berupa persiapan sarana prasarana pendukung wisata dan dukungan program kegiatan bebas sampah melalui penyediaan kotak makan. Selain kegiatan tersebut, Mitra TN Kutai juga mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan promosi Taman Nasional Kutai Untuk memastikan program kerja Mitra dapat berlangsung dengan baik, para anggota Mitra TN Kutai selalu mengagendakan rapat rutin bulanan dan rapat tahunan sebagaimana yang dilaksanakan pada hari Senin, 28 Juni 2021 yang terselenggara secara Daring dan Luring di Ruang Rapat Kantor Balai TN Kutai.   Selain dihadiri oleh Anggota Mitra TN Kutai, rapat juga dihadiri oleh Sekditjen KSDAE Bapak Tandya Tjahjana, juga selaku Direktur PIKA yang hadir secara virtual menyampaikan arahan terkait pelaksanaan kemitraan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Agenda lain dalam rapat rutin Mitra TN Kutai kali ini adalah penyampaian laporan tahun 2020 dan diakhir acara ditutup dengan penandatanganan Komitmen Tahun 2021. Secara keseluruhan program kegiatan Mitra TN Kutai disusun dalam sebuah Rencana Strategis  lima tahunan yang didetailkan dalam rencana tahunan yang ditandatangani oleh seluruh perwakilan Mitra TN Kutai dalam forum rapat tahunan Mitra TN Kutai. Program mitra TN Kutai tidak hanya terbatas pada apa yang direncanakan pada setiap tahun anggaran. Namun secara insidentil terdapat beberapa kegiatan yang didukung oleh anggota mitra secara in kind sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Taman Nasional Kutai. Sehingga peran mitra sangat penting dalam memperkuat kelembagaan Taman Nasional Kutai. Semoga dukungan tersebut terus terjaga dan senantiasa “Bangga menjadi Mitra”. 

Pelepasliaran Elang Bondol dan Elang Brontok di Bontang Mangrove Park

Bontang, 25 Juni 2021. Balai Taman Nasional Kutai bersama dengan Balai KSDA Kalimantan Timur kembali melepasliarkan satwa dilindungi ke kawasan Taman Nasional Kutai. Kegiatan pelepasliaran dilaksanakan di salah satu objek wisata Taman Nasional Kutai yaitu di Bontang Mangrove Park Resort Teluk Pandan SPTN Wilayah I Sangatta. Jenis satwa yang dilepaskan yaitu Elang Bondol (Haliastur indus) sebanyak 3 ekor dan Elang Brontok (Niseatus cirrhatus) sebanyak 1 ekor. Kedua jenis satwa tersebut merupakan hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Menurut informasi, burung merupakan hasil sitaan dan penyerahan sendiri dari masyarakat. Dengan adanya penyerahan sendiri oleh masyarakat, berarti sebagian masyarakat telah memiliki kesadaran untuk tidak memelihara jenis-jenis satwa dilidungi.

Road To HKAN 2021, TN KUtai-BKSDA Kaltim Rilis Bekantan

Selasa, 22 Juni 2021, Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan BKSDA Kalimantan Timur melakukan pelepasliaran bekantan (Nasalis larvarus) di Bontang Mangrove Park, Taman Nasional Kutai. Selain dikenal dengan sebutan bekantan, jenis ini dikenal dengan berbagai nama lokal seperti monyet belanda, Dare’ belanda.  Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan  long-nosed monkey, karena hidung jantan yang sangat mancung.
Status satwa ini mengalami ancaman berupa penangkapan liar untuk piaraan dan kerusakan habitat. Karena status keterancamannya,  bekantan ditempatkan dalam status terancam punah (endangered) di dalam daftar merah IUCN dan  apendiks I dan daftar CITES.
Di Indonesia,  Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang dilindungi berdasarkan  undang-undang.
Secara umum, Konservasi bekantan di TN Kutai dilakukan melalui perlindungan populasi dan habitat. Secara rutin Balai TN Kutai melakukan pemantauan populasi pada seluruh habitat bekantan di TN Kutai setiap tahun dan pembinaan habitat melalui rehabilitasi hutan mangrove.
Pelepasliaran bekantan  di Taman Nasional Kutai ini, merupakan salah satu upaya penanganan satwa dan diharapkan satwa ini dapat berkembang biak dengan aman di habitatnya. Sekaligus menjadi salah satu daya tarik wisata di Bontang Mangrove Park.
Kegiatan ini sekaligus dalam rangka road to HKAN (Hari Konservasi Alam Nasional) tahun 2021.
Lestarikan alam, lestarikan satwa liar demi kehidupan yang lebih baik.

Tetap Sehat di Era Pandemi, Ayo Ke Bontang Mangrove Park

Mengisi waktu ditengah Pandemi Balai Taman Nasional Kutai, tetap konsisten menyajikan destinasi wisata alternative bagi masyarakat Bontang dan sekitarnya. Bontang mangrove Park sebagai destinasi wisata pendidikan dan petualangan. Di tengah pandemi covid-19, BMP juga hadir sebagai “Forest Healing” bagi masyarakat. Pandemi Covid-19 telah berimplikasi pada meningkatnya tingkat depresi masyarakat, sementara untuk tetap bertahan dalam melawan ancaman wabah ini diperlukan peningkatan daya tahan tubuh. BMP hadir sebagai solusi alternatif untuk dapat melawan wabah ini. Forest healing atau hutan pemulihan adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan imunitas tubuh secara mental dengan memanfaatkan berbagai elemen yang ada pada hutan untuk menyembuhkan. BMP, dibangun dengan konsep Conservation, Education and Adventure. Menyajikan potensi alam berupa hamparan ekosistem mangrove yang sangat indah dengan keanekaragaman jenis vegetasi dan satwa di dalamnya. Kesejukan alam dan letaknya yang startegis karena berada di tengah Kota Bontang, menjadikan BMP sebagai tempat yang tepat untuk refreshing dan meghilangkan kejenuhan. Sepanjang waktu dari pagi sampai sore, merupakan momen terbaik untuk kunjungan wisata ke BMP tergantung tujuan masing-masing pengunjung. Sunrise, dapat dinikmati dari boardwalk dengan view yang menghadap ke laut-Selat Makassar dan dari Menara pandang. Sunset dan view lampu dari pabrik yang terdapat diseberang BMP, juga menjadi momen favorit para pemburu gambar. Siang hari dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mengetahui keanekaragaman hayati hutan mangrove dan ekosistemnya. Pada saat surut terendah, pengunjung dapat menyaksikan barisan ikan-ikan kecil yang memenuhi areal terbuka disepanjang boarwalk. Pemandangan ini, semakin membuktikan fungsi hutan mangrove sebagai tempat pemijahan ikan, udang, kepiting dll, dan menyebar ke laut lepas setelah besar. Pada momen ini pula, pengunjung dapat menyaksikan sekumpulan burung air yang sedang mencari makan di tengah surutnya air laut. Mendukung fungsi BMP sebagai sarana edukasi, disepanjang boardwalk sepanjang 2.5 km yang terbentang dari daratan sampai ke laut, terdapat berbagai informasi tentang jenis-jenis vegetasi hutan mangrove. Menara pandang dengan tinggi 20 m, yang dapat difungsikan sebagai sarana “bird watching”. Dari Menara pandang, tersaji hamparan ekosistem mangrove, view Kota Bontang dan kawasan industry PT.Pupuk Kaltim. Pada pagi dan sore hari, Menara Pandang merupakan hotspot terbaik untuk mendapatkan gambar sunset dan sunrise. Beberapa gazebo yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat, juga tersedia pada beberapa titik. Selain gazebo disepanjang trekking, terdapat dua gazebo yang terletak pada sisi terluar ekosistem mangrove dengan view laut. Diantara dua gazebo terdapat boardwalk yang menyerupai catwalk yang menjorok agak ke laut. Ketiga fasilitas tersebut saling mendukung untuk memberikan kepuasan pengunjung dalam menikmati keindahan alam sekaligus mendapatkan gambar terbaik. Bagi pengunjung yang ingin melakukan kegiatan di dalam ruangan, tersedia Balai Pertemuan pada welcome area, yang dapat menampung 200 – 300 orang (sangat tergantung dengan jenis kegiatan). Welcome area, juga sedang dipersiapkan bumi perkemahan yang dapat mengakomodir peserta sampai seribu orang. Di era Pandemi Covid-19, kapasitas ini hanya diizinkan untuk 50% pengunjung, dengan tetap menerapkan protokol covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan. Sarana prasarana pendukung berupa temat cuci tangan, rambu-rambu, pemeriksaan suhu serta pemantauan pengunjung sangat ketat berlaku di Bontang Mangrove Park.

BMP, Wisata Sehat di Era Pandemi

Ditengah pandemi Covid 19, Bontang mangrove Park (BMP) menjadi tempat yang favorit. Selain letaknya yang cukup strategis karena terletak di tengah Kota Bontang, BMP menyajikan potensi sebagai Healing forest, yaitu menjadi sarana aktivitas untuk meningkatkan imunitas tubuh secara mental dengan memanfaatkan berbagai elemen yang ada pada hutan untuk menyembuhkan. Menyajikan potensi alam berupa hamparan ekosistem mangrove yang sangat indah dengan keanekaragaman jenis vegetasi dan satwa di dalamnya. Kesejukan alam dan letaknya yang startegis karena berada di tengah Kota Bontang, menjadikan BMP sebagai tempat yang tepat untuk refreshing dan meghilangkan kejenuhan. Minggu, Tanggal 30 Mei 2021, pengunjung BMP cukup antusias melakukan berbagai kegiatan baik di welcome area mapun di sepanjang trek wisata (Boardwalk). Beberapa pengunjung datang ke BMP sekedar untuk bersantai bersama keluarga, menikmati suasana alam BMP. Sebagian besar pengunjung memilih untuk berjalan mengelilingi junggle trekking sepanjang 2.5 km, sekaligus bersantai di pelataran dipinggir laut serta gasebo yang tersedia disepanjang trekking. Selama pandemi covid-19, pemenuhan protokol covid 19 wajib dilakukan, serta pemantauan pengunjung sangat ketat dilakukan melalui pembatasan pengunjung, pengaturan rute trekking satu arah, pencegahan kerumunan, dan pemantauan penggunaan masker. Sarana penunjang berupa alat pengukur suhu tersedia di gerbang/loket tiket serta sarana untuk mencuci tangan tersedia dibeberapa titik/lokasi.

Patroli Pengamanan Kawasan

Jeram disepanjang sungai serta  derasnya arus tidak menyurutkan semangat Polhut Balai Taman Nasional Kutai dalam bekerja. Menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dan menyelamatkan aset masyarakat Indonesia dan masyarakat Kalimantan Timur secara khusus,  berupa kelestarian Taman Nasional Kutai,  menjadi tujuan prioritas dalam bekerja. Patroli secara rutin  tanpa mengenal waktu dilakukan secara konsisten untuk mencegah gangguan terhadap kawasan. Penerapan pengelolaan berbasis resort  untuk mencegah kehilangan aset potensi hutan baik kehilangan potensi kayu maupun gangguan pada ekosistem berupa perubahan tutupan lahan dan bentang alam, diharapkan menjadi solusi. Dengan membagi kawasan menjadi 6 resort diharapkan dapat memudahkan dalam memantau keamanan kawasan. Namun keterbatasan SDM serta aksesibilitas menjadi faktor pembatas bagi Balai Taman Nasional Kutai. Kasus illegal logging dan pengrusakan kawasan masih terjadi.  Situasi dan kondisi ini tidak menyurutkan semangat para penjaga hutan (Polhut) Taman Nasional Kutai. Seperti yang terjadi pada  Kamis,  27 Mei 2021,  setelah melakukan pemantauan, mereka menemukan kegiatan illegal logging disalah satu titik kawasan.  Tim Polhut SPTN I Sangatta langsung meluncur ke target. Derasnya arus Sungai Sangatta, serta gelapnya malam  tidak menjadi penghalang bagi mereka. Benar kata pepatah  yang menyatakan  bahwa: “Usaha tidak akan pernah membohongi hasil”. Usaha dan semangat mereka tidak sia-sia.  Berkat semangat yang tinggi serta tindakan yang cepat dan tepat, akhirnya tim menemukan barang bukti berupa kayu hasil kegiatan illegal logging serta kapal yang digunakan untuk mengangkut kayu.  Tersangka tidak berhasil ditemukan, karena dalam upaya pengejaran, Tim kehabisan bahan bakar serta kondisi yang sudah larut malam, bahkan sudah menjelang dini hari. Temuan berupa kayu olahan dimusnahkan dilokasi sedangkan kapal diamankan sebagai barang bukti. Sebagai tindak lanjut, barang bukti dibawa ke tempat penyimpanan barang bukti Balai TN Kutai, untuk  selanjutnya akan ditindaklanjuti sesuai peraturan yang berlaku.    

Konservasi Jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider)

Ngeri-ngeri sedap. Demikian kira-kira perasaan jika kita bertemu dengan buaya. Perasaan ngeri bercampur dengan perasaan senang, karena berkesempatan melihat secara langsung mahkluk yang legendaris. Di Sungai Guntung, salah satu sungai di wilayah Taman Nasional Kutai, kita dapat dengan mudah menyaksikan jenis satwa yang sering disebut “Monster” ini dengan mudah. Bahkan masyarakat Guntung sangat terbiasa hidup bersama dengan jenis ini dan menjadikan satwa ini sebagai bagian dari mereka. Bagi mereka satwa buaya tidak akan mengganggu sepanjang kita tidak mengganggu “mereka”. Sungguh sebuah kehidupan yang harmonis di alam. Terdapat 25 jenis buaya di dunia, enam jenis diantaranya ditemukan di wilayah Indonesia. Satu dari enam jenis buaya yang hidup di wilayah Kalimantan adalah Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider, 1801), Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso. Buaya Muara dalam bahasa latin disebut: Crocodylus porosus Schneider, 1801, Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di Sungai Nil, krokodilos; kata bentukan yang berakar dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’. Mereka menyebutnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebiasaan buaya berjemur di tepian sungai yang berbatu-batu. Berdasarkan taksonominya, klasifikasi Buaya Muara adalah: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Superkelas : Tetrapoda Kelas : Reptilia Subkelas : Diapsida Ordo : Crocodylia Famili : Crocodylidae Genus : Crocodylus Spesies : Crocodylus porosus Karakteristik Fisik Merupakan jenis buaya yang terbesar di dunia, pertumbuhannya mencapai lebih dari 6,1 meter. Panjang dan berat sampai 1 ton. Panjang untuk jantan dewasa 4 – 7 meter, dan yang betina dewasa mencapai 3 – 3,5 meter. Buaya Muara bisa berwarna hitam, coklat gelap, atau kekuning-kuningan pada bagian dorsal. Di sisi bagian bawah berwarna putih atau kekuningan. Ciri khasnya adalah bahwa sisik belakang kepalanya tidak ada atau berukuran sangat kecil. Pada moncongnya, antara mata dengan hidung terdapat sepasang lunas. Panjang moncong sekitar satu setengah sampai dua kali lebarnya atau lebih. Giginya berjumlah sekitar 17 – 19 buah, yang keempat, kedelapan dan Sembilan umumnya jauh lebih besar; empat gigi pertama terpisah dari gigi-gigi di sebelah belakangnya. Sisik punggung berlunas pendek, berjumlah 16 – 17 baris dari depan ke belakang, biasanya dalam 6 – 8 baris. Umumnya sisik berlunas tidak mempunyai tulang yang tebal, sehingga lebih disukai penyamak kulit. Pewarnaan: Tubuhnya berwarna abu-abu hijau tua, terutama pada individu dewasa, sedangkan individu muda berwarna lebih abu-abu muda kehijauan dengan bercak-bercak hitam. Pada ekornya terdapat bercak berwarna hitam membentuk belang yang utuh. Perilaku Pada jantan dewasa hidup menyendiri (soliter), memiliki wilayah teritori yang luas. Betina biasanya memiliki wilayah teritori yang kecil, sedangkan jantan dewasa memiliki territorial mulai dari 260 km 2 . Buaya sering merendam hampir seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala. Selama hidupnya gigi baru terus tumbuh dan menyingkirkan gigi yang lama dari rongganya. Kekuatan tubuhnya bisa maksimal apabila badanya terendam di air. Makanan Buaya Muara muda makanan utamanya adalah kepiting dan ikan kecil. Pada Buaya Muara yang dewasa makanannya jenis mamalia besar, baik yang dipelihara maupun yang liar, bahkan kadang-kadang juga memakan manusia. Biologi Reproduksi Wilayah perkembangbiakan biasanya di sepanjang pasang surut sungai dan area air tawar. Betina mencapai kematangan seksual pada panjang 2,2 – 2,5 m (10 sampai 12 tahun). Jantan dewasa lebih lambat (3,2 m, pada sekitar 16 tahun). Musim berkembang biak terjadi pada bulan April hingga Mei di India, dan Januari hingga Februari di Australia. Pada musim kawin dan bertelur buaya dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat. Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya. Induk buaya betina umumnya menyimpan telurtelurnya (40 – 70 telur) dengan dibenamkan di bawah gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan selama + 70 – 80 hari. Gundukan tersebut membantu mengisolasi telur dari suhu ekstrim, menyembunyikan mereka dari predator, menghentikan dehidrasi, dan juga berfungsi untuk menaikkan telur di atas tanah sehingga meminimalkan risiko banjir. Banyak sarang -sarang yang terkena banjir setiap tahun dan membunuh semua embryo. Penyebab utama kematian janin buaya muara adalah karena kebanjiran (genangan air) dan bukan karena predator. Walaupun betina tetap berada di dekat sarang, telur kadang-kadang dimakan predator (misalnya monitor lizards, babi hutan liar di Australia) dan manusia telur kolektor. Telur biasanya menetas setelah 80 hingga 90 hari tapi bervariasi pada berbagai suhu (80 hari pada suhu tetap 32 celsius, lebih lama jika dingin). Betina mengeluarkan mereka dari sarang ketika mendengar suara mereka, membantu mereka ke air dengan hati-hati membawa mereka di dalam mulut. Banyak penelitian telah dilakukan dalam TSD (Penetapan Sex bergantung Temperature) dalam spesies ini, yang merupakan nilai untuk captive breeding program untuk mempengaruhi rasio jenis kelamin, dan untuk jantan memproduksi lebih cepat berkembang untuk keperluan penangkaran. Persentase produksi jantan tertinggi pada suhu sekitar 31,6 ° C, dan betina pada suhu beberapa derajat di atas dan di bawah ini. Diperkirakan kurang dari 1% dari anak buaya yang akan hidup sampai dewasa, karena banjir, predator (misalnya kura-kura, goannas, C. johnstoni), kompetisi untuk sumber daya, dan tekanan sosial (jantan pemilik wilayah akan makan bayi buaya dan remaja). Habitat dan Penyebaran Buaya Muara terutama hidup di daerah sepanjang sungai, muara sungai dan pesisir laut. Hampir semua buaya dikabarkan suka berjemur di pagi hari, dan menyelam atau menyeburkan dirinya dalam air dan menyelam apabila ada suara yang tidak bersahabat. Ada beberapa catatan yang menyatakan bahwa jenis ini kadang-kadang dijumpai di laut lepas. Secara global populasi buaya tersebar dari pantai timur Indonesia sampai Australia. Di Taman Nasional Kutai tersebar pada beberapa sungai yaitu: Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan. Konservasi jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) termasuk jenis satwa yang dilindungi menurut Permen LHK Nomor: 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi. Jenis Buaya ini dalam daftar CITES (Convention on Internanational Trade of Endangered Species of Fauna and Flora) masuk dalam Appendiks I. Appendiks I mengisyaratkan bahwa populasi spesies ini dalam populasi yang sedikit dan karenanya perdagangan jenis ini dilarang kecuali dari hasil penangkaran. Upaya Pelestarian dan Kepedulian Keberadaan Buaya Muara di Taman Nasional Kutai sebagai jenis dilindungi harus dijaga bersama-sama dengan cara:
  1. Tidak diburu untuk kepentingan apapun, kecuali untuk tujuan penelitian.
  2. Tidak merusak atau mencemari Habitat buaya muara yang ada di Taman Nasional Kutai, yaitu di Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Telaga Bening teluk Pandan Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo dan beberapa habitat lainnya. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan.
  3. Menghindari atau tidak melakukan aktivitas seperti berenang di habitat Buaya Muara.
Potensi Pemanfaatan: Keberadaan buaya muara di Taman Nasional Kutai perlu dikelola dari aspek pemanfaatan tidak langsung, namun dalam bentuk atraksi dan penelitian. Untuk itu dapat ditetapkan lokasi-loksi dan pembangunan sarana atraksi yang memungkinkan pengunjung minat khusus dapat mengamati keberadaan buaya muara di habitatnya.