Konservasi Jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider)

Ngeri-ngeri sedap. Demikian kira-kira perasaan jika kita bertemu dengan buaya. Perasaan ngeri bercampur dengan perasaan senang, karena berkesempatan melihat secara langsung mahkluk yang legendaris. Di Sungai Guntung, salah satu sungai di wilayah Taman Nasional Kutai, kita dapat dengan mudah menyaksikan jenis satwa yang sering disebut “Monster” ini dengan mudah. Bahkan masyarakat Guntung sangat terbiasa hidup bersama dengan jenis ini dan menjadikan satwa ini sebagai bagian dari mereka. Bagi mereka satwa buaya tidak akan mengganggu sepanjang kita tidak mengganggu “mereka”. Sungguh sebuah kehidupan yang harmonis di alam.

Terdapat 25 jenis buaya di dunia, enam jenis diantaranya ditemukan di wilayah Indonesia. Satu dari enam jenis buaya yang hidup di wilayah Kalimantan adalah Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider, 1801), Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso.

Buaya Muara dalam bahasa latin disebut: Crocodylus porosus Schneider, 1801, Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di Sungai Nil, krokodilos; kata bentukan yang berakar dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’. Mereka menyebutnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebiasaan buaya berjemur di tepian sungai yang berbatu-batu.

Berdasarkan taksonominya, klasifikasi Buaya Muara adalah:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Reptilia
Subkelas : Diapsida
Ordo : Crocodylia
Famili : Crocodylidae
Genus : Crocodylus
Spesies : Crocodylus porosus

Karakteristik Fisik
Merupakan jenis buaya yang terbesar di dunia, pertumbuhannya mencapai lebih dari 6,1 meter. Panjang dan berat sampai 1 ton. Panjang untuk jantan dewasa 4 – 7 meter, dan yang betina dewasa mencapai 3 – 3,5 meter. Buaya Muara bisa berwarna hitam, coklat gelap, atau kekuning-kuningan pada bagian dorsal. Di sisi bagian bawah berwarna putih atau kekuningan.

Ciri khasnya adalah bahwa sisik belakang kepalanya tidak ada atau berukuran sangat kecil. Pada moncongnya, antara mata dengan hidung terdapat sepasang lunas. Panjang moncong sekitar satu setengah sampai dua kali lebarnya atau lebih. Giginya berjumlah sekitar 17 – 19 buah, yang keempat, kedelapan dan Sembilan umumnya jauh lebih besar; empat gigi pertama terpisah dari gigi-gigi di sebelah belakangnya. Sisik punggung berlunas pendek, berjumlah 16 – 17 baris dari depan ke belakang, biasanya dalam 6 – 8 baris. Umumnya sisik berlunas tidak mempunyai tulang yang tebal, sehingga lebih disukai penyamak kulit.

Pewarnaan: Tubuhnya berwarna abu-abu hijau tua, terutama pada individu dewasa, sedangkan individu muda berwarna lebih abu-abu muda kehijauan dengan bercak-bercak hitam. Pada ekornya terdapat bercak berwarna hitam membentuk belang yang utuh.

Perilaku
Pada jantan dewasa hidup menyendiri (soliter), memiliki wilayah teritori yang luas. Betina biasanya memiliki wilayah teritori yang kecil, sedangkan jantan dewasa memiliki territorial mulai dari 260 km 2 . Buaya sering merendam hampir seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala. Selama hidupnya gigi baru terus tumbuh dan menyingkirkan gigi yang lama dari rongganya. Kekuatan tubuhnya bisa maksimal apabila badanya terendam di air.

Makanan
Buaya Muara muda makanan utamanya adalah kepiting dan ikan kecil. Pada Buaya Muara yang dewasa makanannya jenis mamalia besar, baik yang dipelihara maupun yang liar, bahkan kadang-kadang juga memakan manusia.

Biologi Reproduksi
Wilayah perkembangbiakan biasanya di sepanjang pasang surut sungai dan area air tawar. Betina mencapai kematangan seksual pada panjang 2,2 – 2,5 m (10 sampai 12 tahun). Jantan dewasa lebih lambat (3,2 m, pada sekitar 16 tahun).

Musim berkembang biak terjadi pada bulan April hingga Mei di India, dan Januari hingga Februari di Australia. Pada musim kawin dan bertelur buaya dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat. Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya. Induk buaya betina umumnya menyimpan telurtelurnya (40 – 70 telur) dengan dibenamkan di bawah gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan selama + 70 – 80 hari. Gundukan tersebut membantu mengisolasi telur dari suhu ekstrim, menyembunyikan mereka dari predator, menghentikan dehidrasi, dan juga berfungsi untuk menaikkan telur di atas tanah sehingga meminimalkan risiko banjir. Banyak sarang -sarang yang terkena banjir setiap tahun dan membunuh semua embryo. Penyebab utama kematian janin buaya muara adalah karena kebanjiran (genangan air) dan bukan karena predator. Walaupun betina tetap berada di dekat sarang, telur kadang-kadang dimakan predator (misalnya monitor lizards, babi hutan liar di Australia) dan manusia telur kolektor.

Telur biasanya menetas setelah 80 hingga 90 hari tapi bervariasi pada berbagai suhu (80 hari pada suhu tetap 32 celsius, lebih lama jika dingin). Betina mengeluarkan mereka dari sarang ketika mendengar suara mereka, membantu mereka ke air dengan hati-hati membawa mereka di dalam mulut. Banyak penelitian telah dilakukan dalam TSD (Penetapan Sex bergantung Temperature) dalam spesies ini, yang merupakan nilai untuk captive breeding program untuk mempengaruhi rasio jenis kelamin, dan untuk jantan memproduksi lebih cepat berkembang untuk keperluan penangkaran. Persentase produksi jantan tertinggi pada suhu sekitar 31,6 ° C, dan betina pada suhu beberapa derajat di atas dan di bawah ini. Diperkirakan kurang dari 1% dari anak buaya yang akan hidup sampai dewasa, karena banjir, predator (misalnya kura-kura, goannas, C. johnstoni), kompetisi untuk sumber daya, dan tekanan sosial (jantan pemilik wilayah akan makan bayi buaya dan remaja).

Habitat dan Penyebaran
Buaya Muara terutama hidup di daerah sepanjang sungai, muara sungai dan pesisir laut. Hampir semua buaya dikabarkan suka berjemur di pagi hari, dan menyelam atau menyeburkan dirinya dalam air dan menyelam apabila ada suara yang tidak bersahabat. Ada beberapa catatan yang menyatakan bahwa jenis ini kadang-kadang dijumpai di laut lepas. Secara global populasi buaya tersebar dari pantai timur Indonesia sampai Australia. Di Taman Nasional Kutai tersebar pada beberapa sungai yaitu: Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan.

Konservasi jenis
Buaya Muara (Crocodylus porosus) termasuk jenis satwa yang dilindungi menurut Permen LHK Nomor: 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi.

Jenis Buaya ini dalam daftar CITES (Convention on Internanational Trade of Endangered Species of Fauna and Flora) masuk dalam Appendiks I. Appendiks I mengisyaratkan bahwa populasi spesies ini dalam populasi yang sedikit dan karenanya perdagangan jenis ini dilarang kecuali dari hasil penangkaran.

Upaya Pelestarian dan Kepedulian
Keberadaan Buaya Muara di Taman Nasional Kutai sebagai jenis dilindungi harus dijaga bersama-sama dengan cara:

  1. Tidak diburu untuk kepentingan apapun, kecuali untuk tujuan penelitian.
  2. Tidak merusak atau mencemari Habitat buaya muara yang ada di Taman Nasional Kutai, yaitu di Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Telaga Bening teluk Pandan Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo dan beberapa habitat lainnya. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan.
  3. Menghindari atau tidak melakukan aktivitas seperti berenang di habitat Buaya Muara.

Potensi Pemanfaatan:
Keberadaan buaya muara di Taman Nasional Kutai perlu dikelola dari aspek pemanfaatan tidak langsung, namun dalam bentuk atraksi dan penelitian. Untuk itu dapat ditetapkan lokasi-loksi dan pembangunan sarana atraksi yang memungkinkan pengunjung minat khusus dapat mengamati keberadaan buaya muara di habitatnya. (Yulita Kabangnga)

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Berita Lainnya