Anggrek Dendrobium TN Kutai

Balai TN Kutai selalu berusaha meningkatkan upaya pengelolaan kawasan. Konservasi keanekaragaman hayati sebagai “core bisnis TN Kutai”, menuntut pengelola untuk mengetahui isi seluruh kawasan yang menjadi “Rumah”nya. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu melalui mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan.

Anggrek adalah salah satu kelompok tumbuhan yang memiliki potensi untuk pengembangan wisata dan sumber plasma nutfah yang bisa mendukung upaya pengembangan ekonomi masyarakat melalui budidaya tanaman hias. Berdasarkan hasil survey dan eksplorasi Balai TN Kutai terdapat lebih dari 30 jenis anggrek di TN Kutai, yang tergabung dalam beberapa famili dan genus dan salah satunya adalah genus Dendrobium. Beberapa jenis dendrobium yang dijumpai di TN Kutai antara lain Dendrobium anosmun, Dendrobium crumenatum, Dendrobium secundum, dan Dendrobium lamellatum.

 

Dendrobium anosmum Lindl

Identifikasi:
Efipit. Batang berbentuk bundar panjang sampai 120 cm dan menggantung. Daun tipis, berbentuk lanset dengan ujung daun meruncing, panjang daun 10 – 25 cm, lebar 34 cm. jumlah daun setiap batang 6 – 10 helai. Bunga muncul dari nodus, diameter bunga 47 cm, Daun kelopak berbentuk lanset berwarna ungu keputihan, daun mahkota berbentuk jorong berwarna ungu tua. Daun kelopak dan mahkota bunga berambut halus dan rapat. Buah berbentuk jorong dengan panjang sampai 10 cm, berwarna hijau, menguning setelah tua akhirnya pecah.

Habitat/ekologi dan Penyebaran:
Menyukai tempat terbuka, tumbuh pada hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian700 m dpl. Tumbuh efipit pada tumbuhan inang. Berbunga sepanjang tahun, dan bunga mekar sekitar 10 – 15 hari. Pada saat mekar mengeluarkan aroma yang sangat wangi. Lebih senang berbunga pada musim kering. Penyebaran di Indonesia dapat dijumpai di Kalimantan dan Minahasa. Penyebaran secara umum di Malaya, timur Malaysia dan Philipina.

 

Dendrobium crumenatum Swartz.
(Anggrek Merpati)

Identifikasi:
Efipit. Batang berbentuk umbi semu, tersusun rapat satu sama lain, panjang 60 – 100 cm; pangkal dan ujung batang mengecil dan tengah batang berbentuk tabung. Daun terdapat pada ujung batang berbentuk jorong dengan panjang 9 – 12 cm dan lebar 1.5 – 2 cm. Bunga tunggal, tumbuh dari batang yang tidak berdaun. panjang batang yang tidak berdaun tempat tumbuhnya bunga sekitar 30 – 40 cm, jumlah bunga tiap batang 8-12 kuntum. Diameter kuntum 2-3 cm. Daun kelopak pada bagian atas berbentuk taji, kelopak bawah berbentuk segitiga dan berwarna putih salju. Mahkota dan kelopak berukuran sama (sekitar 2 x 0.5 cm) tetapi mahkota agak melanset. Bibir bercuping, cuping lateral membundar, tegak. Buah berbentuk jorong dengan panjang 4 – 5 cm. Cuping tengah berlingiran tidak beraturan, ujung meruncing dibagian tengah, bertulang sampai memanjang.

Habitat/ekologi dan Penyebaran:
Menyukai tempat terbuka, tumbuh pada hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl. Tumbuh efipit pada tumbuhan inang. Berbunga sepanjang tahun, dan bunga tidak bertahan lama 12 hari. Pada saat mekar mengeluarkan aroma yang sangat wangi. Penyebaran di Indonesia dapat dijumpai hampir semua pulau. Penyebaran secara umum di India, China, Asia Tenggara.

 

Dendrobium lamellatum (Bl.)Lindl
(Anggrek sikat gigi)

Identifikasi:
Efipit, batang panjang sampai 12 cm, pipih mengkilat dengan lebar 2 – 3 cm dan tebal batang 2 – 3 mm. Daun tipis muncul pada ujung batang, jumlah daun tiap batang 2 – 3, berbentuk lanset dengan panjang 5 – 7 cm, lebat 3-4 cm. Bunga tumbuh dari buku batang, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan, tiap tandan terdapat sekitar 3 – 4 kuntum. Mahkota bunga berwarna kuning muda, Panjang bunga sekitar 2 – 3 cm. Bibir bunga berbentuk segitiga dan berwarna putih kehijauan pada saat baru muncul dan menjadi kuning estela tua, taju ujung berbentuk setengah lingkaran dengan tepi yang melengkung ke belakang.

Ekologi/Habitat dan Penyebaran:
Jenis anggrek ini menyukai tempat yang agak terlindung, umumnya tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi pada pohon inang yang besar. Berbunga sepanjang tahun. Bunga mekar sekitar 7 hari. Penyebaran adalah di Pulau Sumatera, Kalimantan, Maluku, Jawa, Burma dan Malaya.

 

Dendrobium secundum (Bl.)Lindl
(Anggrek sikat gigi)

Identifikasi:
Efipit. Batang berbentuk bundar panjang, dengan pangkal yang mengecil, panjang batang sampai dengan 100 cm. Jumlah daun setiap batang 8 – 10 helai, berbentuk lanset dengan ujung daun meruncing, panjang daun 6-10 cm, lebar 3-6 cm.

Bunga muncul dari ruas sedikit dibawah nodus, berbentuk tandan, dengan panjang tandan 10 – 15 cm bunga tersusun rapat dalam jumlah yang banyak sekitar 40 – 60 bunga tiap tandan. Diameter bunga sekitar 1.5 – 2 cm. Daun kelopak berbentuk jorong, bagian atas tumpul, panjang 0,76 cm. Daun mahkota berbentuk jorong. Mahkota dan daun mahkota berwarna ungu muda keputihan. Bibir bunga berbentuk pita dengan sisi yang melengkung, berwarna jingga dengan bagian bawah berwarna ungu.

Habitat/ekologi dan Penyebaran:
Menyukai tempat terbuka, tumbuh pada hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian 500 mdpl. Tumbuh efipit pada tumbuhan inang. Berbunga sepanjang tahun, dan bunga mekar cukup lama sekitar 8 – 15 hari. Penyebaran di Indonesia dapat dijumpai di Sumatera, Kalimantan, sedangkan penyebaran secara global di Malaysia dan Philipina.

Konservasi Jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider)

Ngeri-ngeri sedap. Demikian kira-kira perasaan jika kita bertemu dengan buaya. Perasaan ngeri bercampur dengan perasaan senang, karena berkesempatan melihat secara langsung mahkluk yang legendaris. Di Sungai Guntung, salah satu sungai di wilayah Taman Nasional Kutai, kita dapat dengan mudah menyaksikan jenis satwa yang sering disebut “Monster” ini dengan mudah. Bahkan masyarakat Guntung sangat terbiasa hidup bersama dengan jenis ini dan menjadikan satwa ini sebagai bagian dari mereka. Bagi mereka satwa buaya tidak akan mengganggu sepanjang kita tidak mengganggu “mereka”. Sungguh sebuah kehidupan yang harmonis di alam. Terdapat 25 jenis buaya di dunia, enam jenis diantaranya ditemukan di wilayah Indonesia. Satu dari enam jenis buaya yang hidup di wilayah Kalimantan adalah Buaya Muara (Crocodylus porosus Schneider, 1801), Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso. Buaya Muara dalam bahasa latin disebut: Crocodylus porosus Schneider, 1801, Inggris disebut Saltwater crocodile, Estuarine crocodile, Indo-Pacific crocodile, Prancis: Crocodile marin, Jerman: Leistenkrokodil; Spanyol: Cocodrilo poroso. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di Sungai Nil, krokodilos; kata bentukan yang berakar dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’. Mereka menyebutnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebiasaan buaya berjemur di tepian sungai yang berbatu-batu. Berdasarkan taksonominya, klasifikasi Buaya Muara adalah: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Superkelas : Tetrapoda Kelas : Reptilia Subkelas : Diapsida Ordo : Crocodylia Famili : Crocodylidae Genus : Crocodylus Spesies : Crocodylus porosus Karakteristik Fisik Merupakan jenis buaya yang terbesar di dunia, pertumbuhannya mencapai lebih dari 6,1 meter. Panjang dan berat sampai 1 ton. Panjang untuk jantan dewasa 4 – 7 meter, dan yang betina dewasa mencapai 3 – 3,5 meter. Buaya Muara bisa berwarna hitam, coklat gelap, atau kekuning-kuningan pada bagian dorsal. Di sisi bagian bawah berwarna putih atau kekuningan. Ciri khasnya adalah bahwa sisik belakang kepalanya tidak ada atau berukuran sangat kecil. Pada moncongnya, antara mata dengan hidung terdapat sepasang lunas. Panjang moncong sekitar satu setengah sampai dua kali lebarnya atau lebih. Giginya berjumlah sekitar 17 – 19 buah, yang keempat, kedelapan dan Sembilan umumnya jauh lebih besar; empat gigi pertama terpisah dari gigi-gigi di sebelah belakangnya. Sisik punggung berlunas pendek, berjumlah 16 – 17 baris dari depan ke belakang, biasanya dalam 6 – 8 baris. Umumnya sisik berlunas tidak mempunyai tulang yang tebal, sehingga lebih disukai penyamak kulit. Pewarnaan: Tubuhnya berwarna abu-abu hijau tua, terutama pada individu dewasa, sedangkan individu muda berwarna lebih abu-abu muda kehijauan dengan bercak-bercak hitam. Pada ekornya terdapat bercak berwarna hitam membentuk belang yang utuh. Perilaku Pada jantan dewasa hidup menyendiri (soliter), memiliki wilayah teritori yang luas. Betina biasanya memiliki wilayah teritori yang kecil, sedangkan jantan dewasa memiliki territorial mulai dari 260 km 2 . Buaya sering merendam hampir seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala. Selama hidupnya gigi baru terus tumbuh dan menyingkirkan gigi yang lama dari rongganya. Kekuatan tubuhnya bisa maksimal apabila badanya terendam di air. Makanan Buaya Muara muda makanan utamanya adalah kepiting dan ikan kecil. Pada Buaya Muara yang dewasa makanannya jenis mamalia besar, baik yang dipelihara maupun yang liar, bahkan kadang-kadang juga memakan manusia. Biologi Reproduksi Wilayah perkembangbiakan biasanya di sepanjang pasang surut sungai dan area air tawar. Betina mencapai kematangan seksual pada panjang 2,2 – 2,5 m (10 sampai 12 tahun). Jantan dewasa lebih lambat (3,2 m, pada sekitar 16 tahun). Musim berkembang biak terjadi pada bulan April hingga Mei di India, dan Januari hingga Februari di Australia. Pada musim kawin dan bertelur buaya dapat menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat. Di musim bertelur buaya amat buas menjaga sarang dan telur-telurnya. Induk buaya betina umumnya menyimpan telurtelurnya (40 – 70 telur) dengan dibenamkan di bawah gundukan tanah atau pasir bercampur dengan serasah dedaunan selama + 70 – 80 hari. Gundukan tersebut membantu mengisolasi telur dari suhu ekstrim, menyembunyikan mereka dari predator, menghentikan dehidrasi, dan juga berfungsi untuk menaikkan telur di atas tanah sehingga meminimalkan risiko banjir. Banyak sarang -sarang yang terkena banjir setiap tahun dan membunuh semua embryo. Penyebab utama kematian janin buaya muara adalah karena kebanjiran (genangan air) dan bukan karena predator. Walaupun betina tetap berada di dekat sarang, telur kadang-kadang dimakan predator (misalnya monitor lizards, babi hutan liar di Australia) dan manusia telur kolektor. Telur biasanya menetas setelah 80 hingga 90 hari tapi bervariasi pada berbagai suhu (80 hari pada suhu tetap 32 celsius, lebih lama jika dingin). Betina mengeluarkan mereka dari sarang ketika mendengar suara mereka, membantu mereka ke air dengan hati-hati membawa mereka di dalam mulut. Banyak penelitian telah dilakukan dalam TSD (Penetapan Sex bergantung Temperature) dalam spesies ini, yang merupakan nilai untuk captive breeding program untuk mempengaruhi rasio jenis kelamin, dan untuk jantan memproduksi lebih cepat berkembang untuk keperluan penangkaran. Persentase produksi jantan tertinggi pada suhu sekitar 31,6 ° C, dan betina pada suhu beberapa derajat di atas dan di bawah ini. Diperkirakan kurang dari 1% dari anak buaya yang akan hidup sampai dewasa, karena banjir, predator (misalnya kura-kura, goannas, C. johnstoni), kompetisi untuk sumber daya, dan tekanan sosial (jantan pemilik wilayah akan makan bayi buaya dan remaja). Habitat dan Penyebaran Buaya Muara terutama hidup di daerah sepanjang sungai, muara sungai dan pesisir laut. Hampir semua buaya dikabarkan suka berjemur di pagi hari, dan menyelam atau menyeburkan dirinya dalam air dan menyelam apabila ada suara yang tidak bersahabat. Ada beberapa catatan yang menyatakan bahwa jenis ini kadang-kadang dijumpai di laut lepas. Secara global populasi buaya tersebar dari pantai timur Indonesia sampai Australia. Di Taman Nasional Kutai tersebar pada beberapa sungai yaitu: Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan. Konservasi jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) termasuk jenis satwa yang dilindungi menurut Permen LHK Nomor: 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi. Jenis Buaya ini dalam daftar CITES (Convention on Internanational Trade of Endangered Species of Fauna and Flora) masuk dalam Appendiks I. Appendiks I mengisyaratkan bahwa populasi spesies ini dalam populasi yang sedikit dan karenanya perdagangan jenis ini dilarang kecuali dari hasil penangkaran. Upaya Pelestarian dan Kepedulian Keberadaan Buaya Muara di Taman Nasional Kutai sebagai jenis dilindungi harus dijaga bersama-sama dengan cara:
  1. Tidak diburu untuk kepentingan apapun, kecuali untuk tujuan penelitian.
  2. Tidak merusak atau mencemari Habitat buaya muara yang ada di Taman Nasional Kutai, yaitu di Sungai Guntung, Sungai Teluk Pandan, Telaga Bening teluk Pandan Sungai Sangkima, Sungai Sangatta, Sungai Kandolo dan beberapa habitat lainnya. Selain itu terdapat beberapa habitat buaya yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai yaitu Muara Sungai Bontang dan Sungai Santan.
  3. Menghindari atau tidak melakukan aktivitas seperti berenang di habitat Buaya Muara.
Potensi Pemanfaatan: Keberadaan buaya muara di Taman Nasional Kutai perlu dikelola dari aspek pemanfaatan tidak langsung, namun dalam bentuk atraksi dan penelitian. Untuk itu dapat ditetapkan lokasi-loksi dan pembangunan sarana atraksi yang memungkinkan pengunjung minat khusus dapat mengamati keberadaan buaya muara di habitatnya. (Yulita Kabangnga)

Tetap Sehat di Era Pandemi, Ayo Ke Bontang Mangrove Park

Mengisi waktu ditengah Pandemi Balai Taman Nasional Kutai, tetap konsisten menyajikan destinasi wisata alternative bagi masyarakat Bontang dan sekitarnya. Bontang mangrove Park sebagai destinasi wisata pendidikan dan petualangan. Di tengah pandemi covid-19, BMP juga hadir sebagai “Forest Healing” bagi masyarakat. Pandemi Covid-19 telah berimplikasi pada meningkatnya tingkat depresi masyarakat, sementara untuk tetap bertahan dalam melawan ancaman wabah ini diperlukan peningkatan daya tahan tubuh. BMP hadir sebagai solusi alternatif untuk dapat melawan wabah ini. Forest healing atau hutan pemulihan adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan imunitas tubuh secara mental dengan memanfaatkan berbagai elemen yang ada pada hutan untuk menyembuhkan. BMP, dibangun dengan konsep Conservation, Education and Adventure. Menyajikan potensi alam berupa hamparan ekosistem mangrove yang sangat indah dengan keanekaragaman jenis vegetasi dan satwa di dalamnya. Kesejukan alam dan letaknya yang startegis karena berada di tengah Kota Bontang, menjadikan BMP sebagai tempat yang tepat untuk refreshing dan meghilangkan kejenuhan. Sepanjang waktu dari pagi sampai sore, merupakan momen terbaik untuk kunjungan wisata ke BMP tergantung tujuan masing-masing pengunjung. Sunrise, dapat dinikmati dari boardwalk dengan view yang menghadap ke laut-Selat Makassar dan dari Menara pandang. Sunset dan view lampu dari pabrik yang terdapat diseberang BMP, juga menjadi momen favorit para pemburu gambar. Siang hari dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mengetahui keanekaragaman hayati hutan mangrove dan ekosistemnya. Pada saat surut terendah, pengunjung dapat menyaksikan barisan ikan-ikan kecil yang memenuhi areal terbuka disepanjang boarwalk. Pemandangan ini, semakin membuktikan fungsi hutan mangrove sebagai tempat pemijahan ikan, udang, kepiting dll, dan menyebar ke laut lepas setelah besar. Pada momen ini pula, pengunjung dapat menyaksikan sekumpulan burung air yang sedang mencari makan di tengah surutnya air laut. Mendukung fungsi BMP sebagai sarana edukasi, disepanjang boardwalk sepanjang 2.5 km yang terbentang dari daratan sampai ke laut, terdapat berbagai informasi tentang jenis-jenis vegetasi hutan mangrove. Menara pandang dengan tinggi 20 m, yang dapat difungsikan sebagai sarana “bird watching”. Dari Menara pandang, tersaji hamparan ekosistem mangrove, view Kota Bontang dan kawasan industry PT.Pupuk Kaltim. Pada pagi dan sore hari, Menara Pandang merupakan hotspot terbaik untuk mendapatkan gambar sunset dan sunrise. Beberapa gazebo yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat, juga tersedia pada beberapa titik. Selain gazebo disepanjang trekking, terdapat dua gazebo yang terletak pada sisi terluar ekosistem mangrove dengan view laut. Diantara dua gazebo terdapat boardwalk yang menyerupai catwalk yang menjorok agak ke laut. Ketiga fasilitas tersebut saling mendukung untuk memberikan kepuasan pengunjung dalam menikmati keindahan alam sekaligus mendapatkan gambar terbaik. Bagi pengunjung yang ingin melakukan kegiatan di dalam ruangan, tersedia Balai Pertemuan pada welcome area, yang dapat menampung 200 – 300 orang (sangat tergantung dengan jenis kegiatan). Welcome area, juga sedang dipersiapkan bumi perkemahan yang dapat mengakomodir peserta sampai seribu orang. Di era Pandemi Covid-19, kapasitas ini hanya diizinkan untuk 50% pengunjung, dengan tetap menerapkan protokol covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan. Sarana prasarana pendukung berupa temat cuci tangan, rambu-rambu, pemeriksaan suhu serta pemantauan pengunjung sangat ketat berlaku di Bontang Mangrove Park.

BMP, Wisata Sehat di Era Pandemi

Ditengah pandemi Covid 19, Bontang mangrove Park (BMP) menjadi tempat yang favorit. Selain letaknya yang cukup strategis karena terletak di tengah Kota Bontang, BMP menyajikan potensi sebagai Healing forest, yaitu menjadi sarana aktivitas untuk meningkatkan imunitas tubuh secara mental dengan memanfaatkan berbagai elemen yang ada pada hutan untuk menyembuhkan. Menyajikan potensi alam berupa hamparan ekosistem mangrove yang sangat indah dengan keanekaragaman jenis vegetasi dan satwa di dalamnya. Kesejukan alam dan letaknya yang startegis karena berada di tengah Kota Bontang, menjadikan BMP sebagai tempat yang tepat untuk refreshing dan meghilangkan kejenuhan. Minggu, Tanggal 30 Mei 2021, pengunjung BMP cukup antusias melakukan berbagai kegiatan baik di welcome area mapun di sepanjang trek wisata (Boardwalk). Beberapa pengunjung datang ke BMP sekedar untuk bersantai bersama keluarga, menikmati suasana alam BMP. Sebagian besar pengunjung memilih untuk berjalan mengelilingi junggle trekking sepanjang 2.5 km, sekaligus bersantai di pelataran dipinggir laut serta gasebo yang tersedia disepanjang trekking. Selama pandemi covid-19, pemenuhan protokol covid 19 wajib dilakukan, serta pemantauan pengunjung sangat ketat dilakukan melalui pembatasan pengunjung, pengaturan rute trekking satu arah, pencegahan kerumunan, dan pemantauan penggunaan masker. Sarana penunjang berupa alat pengukur suhu tersedia di gerbang/loket tiket serta sarana untuk mencuci tangan tersedia dibeberapa titik/lokasi.

Kapolda Kaltim Kunjungi Sangkima Jungle Park (SJP) Taman Nasional Kutai

Kamis, 13 Februari 2020, seperti hari biasa Sangkima Jungle Park ramai dikunjungi wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Sejak launching pada bulan November 2019, Sangkima Jungle park tidak pernah sepi pengunjung. Fasilitas baru berupa amphiteatre yang berkapasitas 300 orang, Balai Pertemuan, Jungle trekking dan fasilitas lainnya sangat mendukung berbagai kegiatan khususnya kegiatan pendidikan lingkungan dan kegiatan kelompok kategorial lainnya. Yang istimewa pada hari Kamis, 13 Februari 2020, Sangkima Jungle Park SJP) mendadak kedatangan tamu istimewa dari Balikpapan, Irjen Pol. Drs Muktiono, SH.,MH. Kapolda Kalimantan Timur beserta rombongan. Kunjungan ke SJP sebagai rangkaian kunjungan ke Sangatta Kabupaten Kutai Timur. Disambut oleh Kepala resort Sangkima, Rif’an Arifaini, S.Hut., dan staf Balai Taman Nasional Kutai di welcome area Sangkima Jungle Park, sebagaimana standar pelayanan wisata, kepala resort menjelaskan tentang Wisata Alam Sangkima dan potensi serta atraksi wisata yang terdapat di Sangkima Jungle Park. Berkunjung ke Sangkima, memang belum sah apabila tidak melihat ulin Raksasa, potensi yang paling terkenal di Sangkima Jungle Park, pohon ulin terbesar di dunia yang berdiameter 2.47m. Pohon tersebut diperkirakan berumur lebih dari 1000 tahun. Demikian pula dengan Kapolda Kaltim yang mengunjungi Sangkima Jungle Park, khususnya karena ingin melihat dari dekat pohon ulin raksasa. Jarak tempuh dari welcome area sejauh 970 m, bukan halangan untuk melihat pohon yang sangat fenomenal tersebut. Apalagi sepanjang perjalanan menuju pohon ulin juga merupakan atraksi wisata berupa boardwalk dari papan ulin yang melintasi hutan hujan Diptrocarpaceae, yang menyajikan pemandangan alam serta suasana damai yang mungkin tidak bisa ditemukan di tempat lain. Bagi yang tertarik dengan pengenalan jenis-jenis flora, disepanjang boardwalk terdapat pohon-pohon yang sudah berlabel dan dapat diidentifikasi dengan membawa leaflet list tumbuhan. Dalam kunjungan ke Ulin Raksasa, Kapolda Kaltim bertemu dengan beberapa pengunjung lainnya. Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pengunjung lain yang berkesempatan bertemu orang nomor 1 di wilayah kepolisian Kaltim, ditengah hutan dan dapat mendokumentasikan pertemuan melalui foto bersama di depan pohon Ulin raksasa Sangkima. Kunjungan Kapolda Kaltim ke Sangkima Jungle Park, Taman Nasional Kutai merupakan kebanggaan tersendiri bagai balai TN Kutai. Kepala Balai TN Kutai memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Kapolda Kaltim atas kunjungan ke TN Kutai. Semoga kunjungan ke TN Kutai semakin memperkuat tali silaturahmi dan sinergitas dalam mendukung upaya konservasi di TN Kutai dan Kalimantan Timur secara umum.

Asian Waterbird Census Tahun 2020 Ajang Refreshing PEH TN Kutai

Sebagaimana tahu-tahun sebelumnya, Januari 2020, Balai TN Kutai kembali melaksanakan kegiatan survey burung air sebagai bentuk partisipasi dalam Asian Waterbird Census yang dimotori oleh Wetlands International Indonesia. Survey burung air dilakukan pada beberapa areal di SPTN wilayah I Sangatta antara lain di Telaga bening Teluk Pandan, Persawahan Sangkima, Persawahan Sangatta selatan dan Muara Sungai Sangatta. Asian Waterbird Census (AWC) merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global, yaitu kegiatan tahunan dengan basis jaringan kerja yang bersifat sukarela, dilakukan setiap minggu ke-2 dan ke-3 Januari setiap tahunnya. Kegiatan ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung-air serta lahan basah sebagai habitatnya. Di Indonesia, kegiatan AWC telah dilaksanakan sejak awal pencanangannya pada tahun 1986, dan dikoordinasi oleh Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bekerja sama dengan Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya di Indonesia. Sejauh ini, hasil dari penghitungan burung air melalui kegiatan IWC dan AWC telah digunakan dalam menentukan status populasi burung air secara global, dan kemudian digunakan untuk acuan pengelolaan kawasan tidak kurang dari 5 juta km2 . Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya. Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status jenis-jenis yang dilindungi. (YLBA, 2020) Dalam survey yang dilakukan di TN Kutai pada bulan Januari 2020, ditemukan 17 jenis burung air, yang terdiri dari 4 famili yaitu famili Ardeidae (9 jenis, 333 individu), Famili Rallidae (4 jenis, 17 individu ), famili Anatidae (1 jenis, 2 individu) dan famili Scolopacidae (3 jenis, 11 individu). Jenis terbanyak ditemukan dari keluarga Ardeidae sebanyak 333 individu yang didominasi jenis kutul kerbau, Bubulcus ibis sebanyak 223 individu. Dua jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor 106 tahun 2018 yaitu Bambangan hitam (Ixobrychus flavicollis) dan Cangak besar (Ardea alba); keduanya berasal dari famili Ardeidae. Asian Waterbird Census (AWC) yang dilaksanakan secara rutin dalam beberapa tahun terakhir, bukan sekedar pekerjaan rutin bagi PEH (Pengendali Ekosistem) TN Kutai. Momen ini dijadikan sebagai ajang refreshing setelah disibukkan dengan ritual akhir tahun yang seringkali membuat para PEH dan seluruh pegawai mengingat hari dan tanggalpun sudah sulit, karena harus memenuhi berbagai kewajiban pelaporan. Habitat burung air yang juga adalah objek wisata alam, menjadikan para PEH sering jadi “disorientasi”, bukan mencari data atau bekerja, melainkan berwisata sambil mencari data. Wisata yang memacu adrenalin seperti Telaga bening dengan jembatan ulin yang membentang ke tengah telaga dan di bawahnya ada buaya (Crocodylus porosus) yang mengamati; Wisata pantai Teluk Lombok dan wisata santai di persawahan Sangkima dan Sangatta Selatan dengan pemandangan alam yang indah disertai angin semilir dan kenikmatan-kenikmatan alam lainnya. Alhasil mencari partisipan untuk terlibat kegiatan AWC pun tidak perlu bersusah payah, karena hampir semua PEH (bahkan non PEH) ingin terlibat. Semua ingin merasakan “Bekerja sambil berwisata”. Mari berwisata ke Taman nasional Kutai. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai

Asian Waterbird Census Tahun 2020, Ajang Refreshing PEH TN Kutai

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Januari 2020, Balai TN Kutai kembali melaksanakan kegiatan survey burung air sebagai bentuk partisipasi dalam Asian Waterbird Census yang dimotori oleh Wetlands International Indonesia. Survey burung air dilakukan pada beberapa areal di SPTN wilayah I Sangatta antara lain di Telaga bening Teluk Pandan, Persawahan Sangkima, Persawahan Sangatta selatan dan Muara Sungai Sangatta. Asian Waterbird Census (AWC) merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global, yaitu kegiatan tahunan dengan basis jaringan kerja yang bersifat sukarela, dilakukan setiap minggu ke-2 dan ke-3 Januari setiap tahunnya. Kegiatan ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung-air serta lahan basah sebagai habitatnya. Di Indonesia, kegiatan AWC telah dilaksanakan sejak awal pencanangannya pada tahun 1986, dan dikoordinasi oleh Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bekerja sama dengan Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya di Indonesia. Sejauh ini, hasil dari penghitungan burung air melalui kegiatan IWC dan AWC telah digunakan dalam menentukan status populasi burung air secara global, dan kemudian digunakan untuk acuan pengelolaan kawasan tidak kurang dari 5 juta km2 . Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya. Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status jenis-jenis yang dilindungi. (YLBA, 2020) Dalam survey yang dilakukan di Tn Kutai pada bulan januari 2020, ditemukan 17 jenis burung air, yang terdiri dari 4 famili yaitu famili Ardeidae (9 jenis, 333 individu), Famili Rallidae (4 jenis, 17 individu ), famili Anatidae (1 jenis, 2 individu) dan famili Scolopacidae (3 jenis, 11 individu). Jenis terbanyak ditemukan dari keluarga Ardeidae sebanyak 333 individu yang didominasi jenis kutul kerbau, Bubulcus ibis sebanyak 223 individu. Dua jenis diantaranya merupakan jenis yang dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor 106 tahun 2018 yaitu Bambangan hitam (Ixobrychus flavicollis) dan Cangak besar (Ardea alba); keduanya berasal dari famili Ardeidae. Asian Waterbird Census (AWC) yang dilaksanakan secara rutin dalam beberapa tahun terakhir, bukan sekedar pekerjaan rutin bagi PEH (pengendali Ekosistem) TN Kutai. Momen ini dijadikan sebagai ajang refreshing setelah disibukkan dengan ritual akhir tahun yang seringkali membuat para PEH dan seluruh pegawai mengingat hari dan tanggalpun sudah sulit, karena harus memenuhi berbagai kewajiban pelaporan. Habitat burung air yang juga adalah objek wisata alam, menjadikan para PEH sering jadi “disorientasi”, bukan mencari data atau bekerja, melainkan berwisata sambal mencari data. Wisata yang memacu adrenalin seperti Telaga bening dengan jembatan ulin yang membentang ke tengah telaga dan di bawahnya ada buaya (Crocodylus porosus) yang mengamati; Wisata pantai Teluk Lombok dan wisata santai di persawahan Sangkima dan Sangatta Selatan dengan pemandangan alam yang indah disertai angin semilir dan kenikmatan-kenikmatan alam lainnya. Alhasil mencari partisipan untuk terlibat kegiatan AWC pun tidak perlu bersusah payah, karena hampir semua PEH (bahkan non PEH) ingin terlibat. Semua ingin merasakan “Bekerja sambil berwisata”. Mari berwisata ke Taman nasional Kutai.

In House Training Penanganan Satwa Liar di Balai TN Kutai

Balai Taman Nasional Kutai melaksanakan kegiatan In House Training Penanganan Satwa Liar kepada 30 orang staf Balai Taman Nasional Kutai, Yayasan Jejak Pulang, mahasiswa UNMUL dan INSTIPER Yogyakarta yang sedang melaksanakan kegiatan magang di Balai TN Kutai. Dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc.. Adapun narasumber dan instruktur dalam kegiatan ini yaitu Kepala Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam Samboja Bapak Dr. Ishak Yassir, Dr. Yaya Rayadin (Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman), drh. Amir Ma’Ruf (Peneliti Balitek KSDA Samboja) dan tim WRU Balai KSDA Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 26 – 28 Agustus 2019 dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang teknik survey satwa liar, memberikan informasi tentang zoonosis pada satwa liar, serta perserta diharapkan dapat melakukan penanganan konflik satwa liar secara tepat. Materi yang disampaikan oleh para instruktur antara lain 1). Teknik survey satwa, 2). Zoonosis pada satwa lair dengan pendekatan one health, 3). Perilaku satwa, 4). Penanganan konflik orangutan, 5). Penanganan konflik buaya, 6). Penggunaan obat bius dan senjata bius. Dalam pelatihan ini, praktek penanganan konflik lebih fokus pada penanganan konflik orangutan dan buaya mengingat di Taman Nasional Kutai, laporan dari masyarakat tentang konflik orangutan dan buaya lebih banyak dibandingkan laporan terkait konflik dengan satwa lainnya. Dengan melakukan penyelamatan satwa liar, diharapkan manusia dan satwa bisa sama-sama selamat sehingga dalam pelaksanaannya perlu adanya regulasi, scientific based, dan teknis. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai

TN Kutai Gelar Peringatan HPSN 2019 Serentak Di 3 Lokasi

Tanggal 4 Maret 2019, TN Kutai menyelenggarakan peringatan HPSN 2019 melalui aksi bersih sampah. Peringatan HPSN melalui aksi bersih sampah diawali dengan apel bersama yang dipimpin oleh kepala Balai TN Kutai. Dalam apel Kepala Balai TN Kutai membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka HPSN 2019 dengan sub tema: “Kelola Sampah untuk Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai”. Kegiatan bersih sampah yang diselenggarakan tersebut merupakan pelaksanaan yang ke-3 kalinya sejak HPSN tanggal 21 Februari 2019. Dan pada tanggal 4 Maret 2019 dilaksanakan serentak di tiga lokasi di TN Kutai yaitu Bontang Mangrove Park, Sangkima Jungle Park dan BPPUTK Sangatta. Aksi bersih sampah diikuti oleh lebih dari 200 orang yang terdiri dari staf Balai TN Kutai, Sekretariat Mitra TN Kutai, Komunitas pemerhati lingkungan Sangatta, Kader Konservasi, SMKKN Makassar, Pokdarwis, dan masyarakat sekitar. Berbeda dengan pelaksanaan aksi bersih sampah sebelumnya, kali ini sejumlah sampah yang dikumpulkan dipilah dan ditimbang dengan jumlah sampah anorganik pada masing masing lokasi adalah Bontang Mangrove Park ± 120 kg, BPPUTK Sangatta ± 150 kg dan Sangkima Jungle Park ± 25 kg. Volume sampah di BPUTK lebih banyak dibanding dua lokasi lainnya karena sebelumnya belum ada kegiatan aksi bersih sampah di BPPUTK Sangatta, sedangkan pada dua lokasi lainnya sudah dilakukan aksi bersih sampah pada tanggal 21-22 Februari 2019. Selain itu di Bontang Mangrove Park kegiatan bersih Sampah sudah dilakukan secara rutin setiap hari Jumat, sejak awal pembukaan wisata BMP awal Februari 2018. Sampah yang terkumpul di Bontang Mangrove Park lebih banyak berasal dari areal sekitar termasuk pemukiman di sekitar Bontang Mangrove Park dan sampah akibat pasang surut air laut. Untuk penanganan selanjutnya, sampah yang terkumpul di BMP dibawa ke TPA Bontang, Kelurahan Bontang Lestari. Dengan adanya peringatan HPSN 2019, diharapkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat. Aksi bersih sampah tidak hanya dilakukan pada momen tertentu, namun dilaksanakan secara rutin. Lebih jauh lagi, diharapkan kesadaran dan kepedulian terhadap sampah semakin meningkat, bahkan semakin bijak dalam menggunakan bahan-bahan yang potensial menghasilkan sampah.

Finalis Pemilihan Duta Peduli Sampah, Bersih Sampah di TN Kutai

Tanggal 22 Februari 2019, rangkaian peringatan hari peduli sampah (HPSN) di Taman nasional Kutai diselenggarakan di Mangrove Bontang Park (BMP) Kota Bontang. Sehari sebelumnya bertepatan dengan HPSN 2019, Balai TN Kutai melaksanakan aksi bersih sampah di Wisata Alam “Sangkima Junggle Park” Kabupaten Kutai Timur. Aksi bersih sampah di Bontang mangrove park diikuti oleh lebih dari 100 warga personil yang terdiri dari pegawai TN Kutai, Masyarakat sekitar BMP, paguyuban parkir, Pokdarwis Bontang Kuala dan Bontang Baru, Kader Konservasi, Laskar Taman Nasional Kutai. Pada saat yang bersamaan 12 finalis Duta Peduli Sampah Kota Bontang Tahun 2019 dan Duta peduli sampah Tahun 2018 hadir melakukan aksi bersih sampah di Bontang Mangrove Park. Finalis Duta Peduli Sampah Tahun 2019 didampingi oleh tim juri dan panitia penyelenggara pemilihan Duta Peduli Sampah Kota Bontang Tahun 2019. Pembersihan sampah di Bontang Mangrove Park dilakukan di sepanjang jalur wisata (Boardwalk) sejauh 2.5 km, di setiap selter/gazebo dan pada areal perkemahan Bontang Mangrove Park. Pembersihan areal perkemahan dilakukan sekaligus untuk mempersiapkan kegiatan kemah pramuka Kwarcab Bontang dalam rangka penyelenggaraan “Bontang Scout Competition”. Kehadiran Finalis Duta peduli sampah Kota Bontang Tahun 2019 di Bontang Mangrove Park memberikan nuansa yang berbeda dalam pelaksanaan kegiatan aksi bersih sampah. Menjadikan Taman Nasional Kutai sebagai bagian dari rangkaian pemilihan duta sampah serta kegiatan “Bontang scout competition” semakin memperkuat peranan Taman Nasional sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat disekitar kawasan Taman Nasional Kutai.