Potensi Wisata

Potensi wisata alam yang ada di Taman Nasional Kutai adalah sebagai berikut:

Bontang Mangrove Park, Saleba, Bontang

Bontang Mangrove Park merupakan salah satu ikon yang digunakan untuk obyek wisata yang ada di Taman Nasional Kutai yang berada dalam administratif Pemerintah Kota Bontang. Sebagai kota industri yang berlokasi di daerah pesisir, hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan kota Bontang. Aksesibilitas ke hutan mangrove juga sangat mudah karena melalui jalur arteri yang menuju ke pusat kota. Kondisi hutan mangrove masih sangat baik. Terdapat area rehabilitasi yang sedang tumbuh sehingga sangat baik untuk pendidikan lingkungan hidup. Selain aksesibilitas mudah hutan mangrove disini masih cukup baik, serta terdapat beberapa lokasi rehabilitasi mangrove yang dilakukan Pemerintah Kota Bontang dan instansi yang lain.

Dengan luasan kurang lebih 200 ha meliputi Tanjung Limau dan Bontang Kuala, kawasan ini sangat cocok untuk pendidikan lingkungan khususnya berkaitan dengan hutan mangrove. Saat ini bangunan yang baru berdiri adalah toilet, sedangkan Balai Pertemuan Umum sedang dalam proses pengerjaan.

Sangkima

Pos Wisata Alam Sangkima berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Kutai Wilayah I Sangatta dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Kawasan ini cukup banyak dikunjungi wisatawan karena aksesibilitasnya yang cukup mudah. Terletak di km 38 jalan poros Bontang – Sangatta, dimana pengunjung dapat mencapai lokasi ini dengan transportasi darat dan hanya memerlukan waktu sekitar 60 menit dari Bontang dan 30 menit dari Sangatta.

Potensi wisata yang ada di Sangkima antara lain adalah hutan alam dengan berbagai tumbuhan terutama ulin dan dari famili Dipterocarpaceae, berbagai jenis satwa liar seperti orangutan morio [Pongo pygmaeus morio], owa-owa, beruk, monyet ekor panjang dan berbagai jenis burung. Daya tarik yang lain di Sangkima adalah petualangan jelajah hutan dengan fasilitas outbond yang cukup memadai dengan jalur yang menantang.

Tumbuhan yang hidup di kawasan ini merupakan merupakan asosiasi dari jenis ulin (Eusideroxylon zwageri), meranti (Shorea spp), dan kapur (Dryobalanops sp). Sedangkan sebagian yang lain merupakan tumbuh-tumbuhan yang mengawali proses suksesi setelah terjadi kebakaran pada tahun 1997 (genus Macaranga dan Syzigium), yang kini mulai digantikan oleh tumbuhan fase berikutnya melanjutkan suksesi.

Kawasan wisata ini memiliki beberapa objek daya tarik wisata baik yang alami maupun buatan. Pohon ulin raksasa yang diperkirakan berumur 1000 tahun dan memiliki diameter 2,49 cm merupakan salah satu atraksi wisata yang dapat ditemukan setelah menyusuri boardwalk sepanjang kurang lebih 900 m. Untuk mengelilingi kawasan wisata alam Sangkima sepanjang 4 km, pengunjung harus melewati trek wisata serta sungai dan tebing yang dapat dilintasi dengan meniti jembatan yang konstruksinya dikondisikan dapat bergoyang, seperti jembatan gantung dan jembatan sling, jembatan pohon, rumah pohon, pemandian tujuh putri, dan Arboretum Tumbuhan Obat, Hias dan Anggrek (TOHA) merupakan atraksi wisata lainnya yang dapat dinikmati oleh wisatawan.

Kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan di kawasan wisata alam Sangkima antara lain adalah: jungle trekking, berkemah, pengamatan satwa, dan pengenalan pohon. Fasilitas yang tersedia di kawasan wisata alam Sangkima adalah: balai pertemuan umum berkapasitas 50 orang dan 2 kamar tidur, mushola dan toilet, rumah pajang, kantor pengelola dan ampitheater.

Kondisi keseluruhan sarana dan prasarana di kluster sangkima, sebagian besar dalam kondisi yang kurang terawat, terjadi aksi vandalism, canopy bridge didua titik kondisi selingnya yang tidak terawat dan tampak lapuk dengan struktur yang tidak terawat, kotor dan sebagian telah rusak. Boardwalk sebagian jalur trekking terdapat kondisi kayu yang sudah lapuk.

Prevab – Mentoko

Mentoko termasuk ke dalam di wilayah kerja SPTN I Sangatta dan terletak di pinggir sungai Sangata dan berbatasan langsung dengan areal industri batubara di seberang sungai.

Prevab dapat dicapai melalui dua alternatif jalur sungai; pertama, melalui Jembatan Pinang, yang terletak di pintu gerbang Kota Sangatta dengan waktu tempuh 2 jam dan kedua melalui Dermaga Papa Charlie yang terletak di Desa Kabo Jaya dengan waktu tempuh ± 30 menit.

Tempat ini sangat cocok untuk wisata dengan minat khusus pengamatan orangutan. Terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) yang dilengkapi dengan jalur interpretasi yang dikenal dengan rute KanCiL (Pendidikan Cinta Lingkungan). Fasilitas yang ada di Prevab, antara lain penginapan, pusat informasi, sumber air bersih, shelter dan trail wisata.

Bagi petualang yang ingin merasakan arung jeram dapat melanjutkan perjalanan dari Prevab ke daerah Mentoko. Mentoko merupakan lokasi yang berada di arah hulu Sungai Sangatta. Lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan perahu saat sungai sedang pasang.

Teluk Lombok dan Pantai Tanjung Prancis

Lokasi Teluk Lombok berada di Desa Sangkima yang merupakan wilayah SPTN I Sangatta. Wisatawan biasanya berkunjung untuk menikmati pemandangan hutan mangrove sepanjang muara sungai dan memancing di Selat Makassar. Kegiatan ini telah memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat di Dusun Teluk Lombok melalui usaha penyewaan perahu dan memandu wisatawan. Selain kegiatan memancing, wisatawan juga dapat menikmati keindahan wisata pantai pasir putih di pantai Tanjung Prancis. Lokasi ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Teluk Kaba

Sebelum tahun 2005, wisata alam Teluk Kaba adalah lokasi yang banyak dikunjungi karena memiliki karakteristik yang khas sebagai lokasi wisata yang unik karena memadukan ekosistem mangrove dengan hutan dataran rendah, serta panorama pantai yang menghadap selat makasar. Namun seiring dengan perkembangan, lokasi ini tidak dapat dikelola dengan baik karena konflik.

Teluk Kaba dapat dicapai dari simpang tiga jalan Bontang Sangata selama 30 menit (6 km) dengan kendaraan double gardan, atau 45 menit melalui jalur laut dengan speedboat dari Tanjung Limau Bontang. Bedasarkan hasil tinjauan ke lapangan, kondisi hutan mangrove dan pantai Teluk Kaba masih menyimpan daya tarik untuk dikembangkan, namun sarana prasarana yang ada dalam kondisi rusak berat, bahkan beberapa rumah/pondok telah dibakar.

Danau Lesung / Selimpus

ODTWA ini memiliki keunikan tersendiri dan layak untuk dikembangkan. Beberapa obyek wisata yang dapat disaksikan, antara lain: sumber mata air asin yang keluar dari celah bebatuan, air terjun, danau, serta beberapa goa (goa kelelawar, goa buaya, goa laba-laba dan goa tanah). Kegiatan yang dapat dilakukan adalah memancing dan menyelusuri goa (penjelajahan).

Terletak di Dusun Selimpus, Kec. Teluk Pandan, Kab. Kutai Timur dan termasuk ke dalam wilayah kerja Resor Teluk Pandan, SPTN I Sangatta. Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan yang merupakan tantangan tersendiri bagi peminat petualang.

Telaga Bening

Telaga Bening merupakan danau alam yang terletak di desa Teluk Pandan. Keberadaan danau ini telah membentuk ekosistem yang khas seperti hutan rawa air tawar dengan dominasi pohon perupuk. Danau ini sangat dekat dengan Jalan Bontang-sangata sehingga mudah dilihat apabila melintas di jalan tersebut. Danau ini juga merupakan habitat buaya meskipun belum ada identifikasi dan eksplorasi secara khusus. Daya tarik lain adalah pemandangan lanskap danau yang indah. Danau ini pernah dideklarasikan pemerintah Kutai Timur sebagai obyek wisata pada tahun 2008 dengan memasang papan nama, namun tidak dikelola. Belum ada aktivitas pariwisata di lokasi ini, namun beberapa pemanfaatan lahan dan sumberdaya air telah ada disini seperti okupasi lahan untuk kebun dan pondok serta instalasi pengolahan air yang mengambil air dari danau sebagai bahan baku.

Lokasi ini potensial untuk dikembangkan karena aksesibilitasnya cukup mudah dijangkau dan memiliki lanskap yang cukup indah beserta satwa yang khas dan unik seperti buaya. Berada pada kisaran kontur 0 – 40 mdpl sehingga memberikan keunikan untuk menikmati pemandangan secara leluasa. Karena merupakan habitat buaya maka ke depan telaga ini dapat dikembangkan menjadi Crocodille Park. Danau ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum masyarakat Desa Teluk Pandan.

Bukit Hijau

Bukit Hijau terletak di Jl Poros Bontang-Sangatta KM-25 Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur adalah salah satu tempat wisata yg dibangun oleh masyarakat sejak 06 Juni 2016. Tempat wisata ini menyiapkan berbagai macam wahana bermain untuk keluarga, instansi, organisasi, dan kegiatan perkemahan untuk sekolah – sekolah. Wilayah ini didorong untuk dikembangkan menjadi salah satu tempat wisata di Taman Nasional Kutai.

Rantau Pulung

Rantau Pulung merupakan resort baru yang termasuk ke dalam daerah administrasi Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur. Waktu yang dapat ditempuh dari Kecamatan Rantau Pulung ke Kota Kabupaten kurang lebih 35 – 50 menit perjalanan darat. Dengan mudahnya akses jalan ke Kebon Agung, Ibukota Kecamatan Rantau Pulung maka peluang pengembangan wisata di Rantau Pulung terbuka lebar.

Resort Rantau Pulung memiliki keunggulan potensi keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dengan pesona alam yang cukup indah. Wisata di Rantau Pulung dapat berupa penjelajahan sungai dan petualangan pengamatan flora dan fauna Kalimantan khususnya Orangutan.

Gua Sampek Marta, Lubang Angin dan Sarang Hitam

Gua-gua yang terletak di Resort Teluk Pandan ini memiliki struktur gua yang menarik dan bervariasi. Gua ini belum dieksplorasi secara detil sehingga belum dikembangkan menjadi objek wisata. Berdasarkan pengamatan awal terhadap gua ini diperoleh hasil bahwa gua ini layak untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Hal ini didukung oleh kemudahan dalam mencapai gua ini dan keamanan untuk menjelajahi gua sehingga layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur dan menjadi bagian dari Resort Teluk Pandan, SPTN Wilayah I Sangatta.